Kamis, 16 Agustus 2012

Hi All,,,

Salam kenal ya..! ^-^

Hari ini aku mau nunjukin karyaku ke para pengunjung blog aku ini...

Karya ini berupa cerpen yang coba aku buat...
Karena ini kali pertama aku nulis, aku harap para pengunjung sekalian yang sudah membaca tulisanku sudi untuk meninggalkan jejak berupa kritik dan saran yang mungkin bisa aku aplikasikan dalam cerpen aku berikutnya.

Well! Check This Out!


Promise
       Julia membuka pintu menuju teras belakang. Lampu taman masih belum dinyalakan. Pasti hari ini Rian pulang telat lagi, begitu pikirnya dalam hati. Julia dan Rian adalah sepasang pengantin baru. Namun belum lewat satu bulan menjalani kehidupan sebagai suami istri, mereka sudah kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan masing-masing. Bahkan bulan madu pun terpaksa harus berkali-kali dibatalkan.
            Alasannya? Tentu saja karena Julia dan Rian sama-sama lebih mengutamakan pekerjaan. Mungkin beberapa orang akan berpikir bahwa keduanya sangat cocok karena memiliki prinsip yang sama yaitu tiada hari tanpa bekerja. Tapi sebenarnya apa yang terlihat benar belum tentu sungguh-sungguh baik-baik saja.
Bayangkan saja. Dalam kurun waktu satu bulan pernikahan, Julia dan Rian hanya menghabiskan waktu bersama kurang dari seperempatnya. Benar, kurang dari satu minggu. Di minggu kedua saja, keduanya pulang larut malam secara bergantian. Kedua orang tua pengantin bukan tidak mengingatkan, bahkan mereka membelikan tiket pesawat ke luar negeri agar keduanya bisa berlibur bersama. Tapi pada akhirnya, tiket dan pasport yang telah susah payah diperjuangkan malah berakhir di laci meja kerja Julia dan Rian.
Entah apa yang mereka pikirkan. Apakah mungkin mereka sudah merencanakan hal semacam kerja lembur setiap hari sebelum mereka memutuskan untuk menikah ataukah mungkin kegilaan kerja itu sudah menjadi sindrom bagi mereka. Entahlah, tidak ada seorangpun yang benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati ataupun pikiran orang lain. Begitupun teman-teman mereka yang hanya bisa bertanya-tanya dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kehidupan Julia dan Rian yang masih baik-baik saja meski keduanya hanya bisa bertemu waktu tidur.
Telepon di ruang tamu berdering. Mbok Inah buru-buru keluar dari kamarnya dan mengangkat telepon.
“Mbak Lia, ada telepon dari Mas Rian.” Julia meraih telepon di tangan Mbok Inah.
“Ya?” gumam Julia sambil melepaskan syal yang terasa membelit lehernya sejak tadi pagi.
“Sepertinya hari ini aku tidak pulang ke rumah. Aku tidak bisa meninggalkan Dina bekerja sendirian di kantor.” Ujar Rian.
“Baiklah. Terserah kau saja. Tapi ngomong-ngomong apa yang kalian kerjakan di kantor sampai tidak bisa pulang ke rumah?” tanya Julia ingin tahu.
“Membuat laporan dan proposal proyek untuk minggu depan. Lalu pergi ke resort untuk memeriksa ruang yang akan digunakan untuk konferensi besok. Kami berencana untuk menginap di sana malam ini.” jelas Rian.
“Baiklah. Baiklah. Tidak usah dijelaskan secara mendetail seperti itu. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Bersenang-senanglah.” Goda Julia.
“Apa maksudmu bersenang-senang? Memikirkannya pun tidak sempat.” Balas Rian.
Keduanya tertawa di telepon. Tiba-tiba Julia merasakan sebuah cairan hangat keluar dari hidungnya. Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan. Darah. Julia menatap tangannya dengan gugup. Ia buru-buru meraih sekotak tisu di meja ruang tamu. Tanpa sengaja tangannya menyenggol vas hingga jatuh ke lantai.
“Julia. Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” tanya Rian cemas.
“Aku baik-baik saja. Jangan mengkawatirkanku. Kau pergi saja dengan Dina. Kalian berdua berhati-hatilah. Hubungi aku kembali jika kau sudah tidak sibuk. Selamat malam.”
Julia berlari ke kamar mandi dan membasuh mukanya dengan air. Darah sudah berhenti mengalir dari hidungnya, namun kepalanya masih berdenyut-denyut. Ia memandang bayangan wajahnya di cermin. Ia menghela nafas. Begitu make-up-nya dihilangkan, wajahnya kembali terlihat tirus.
“Mungkin besok aku harus menemui dokter Erika.” Gumam Julia sambil berbaring di tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, ia sudah tertidur dengan pulas. Sementara itu, Rian yang saat ini masih berada di kantor sedang memandangi ponselnya sambil melamun. Dina, sekretaris sekaligus wanita yang sudah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun yang lalu, menghampirinya dan memegangi tangannya.
“Apa kau sedang memikirkan Julia?” tanya Dina.
Rian mengangguk mengiyakan.
“Aku benar-benar merasa melakukan hal yang buruk. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu ketika kau memintanya menikah denganmu, juga saat Julia menerima lamaranmu. Saat itu aku berpikir bahwa kalian berdua sudah kehilangan akal. Aku bertanya-tanya bagaimana mungkin Julia setuju menikah denganmu padahal ia tahu bahwa aku dan kau pacaran.”
“Lalu kau menjelaskan semuanya padaku. Tentang Riko, tunangan Julia yang berselingkuh, lalu penyakit Julia. Kau bilang alasan kau menikahinya adalah karena kau ingin melindunginya bukan? Kau tidak ingin melihatnya menanggung semua beban itu sendiri, jadi kau putuskan untuk berada di sisinya sebagai suaminya. Kenyataan bahwa kau menyayangi wanita selain aku, tentu saja sedikit menggangguku. Namun aku tahu kasih sayang yang kau berikan padanya tidak kau maksudkan sebagai cinta. Aku tahu orang yang kau cintai adalah aku, tapi yang menjadi istrimu saat ini adalah Julia. Jadi kalau kau harus meninggalkannya berada di rumah sendirian hanya karena aku, aku jadi merasa bahwa aku adalah seorang wanita jalang yang merusak rumah tangga kalian.” Kata Dina.
Rian memandang wajah kekasihnya itu dengan sedih. Ia merasa bersalah pada Dina atas semua hal yang ia lakukan. Sebenarnya hingga detik ini ia tidak tahu apakah ia melakukan hal yang benar dengan menikahi Julia dengan alasan untuk menjaganya, bukan karena cinta.
“Pulanglah. Kau harus berada di sisi Julia. Bukankah kau bilang kau perlu menjaganya? Kau bilang waktunya tak lama?” ujar Dina lagi.
Kali ini suaranya bergetar menahan tangis. Hatinya merasa sakit yang teramat sangat melihat orang yang dikasihinya merasa bimbang untuk memilih antara dirinya dan sahabatnya. Ia tahu bahwa Rian sangat menyayangi Julia sebagaimana seorang kakak pada adiknya, namun tetap saja ia tidak bisa menepis perasaan iri dan terluka di batinnya karena hal itu. Semua wanita tentu tidak mau jika harus menjadi yang kedua, begitu pula dengannya. Meski itu hanya dibandingkan dengan sahabatnya. Namun kali ini ia harus mengalah demi kebahagiaan orang yang paling disayangi oleh kekasihnya.
“Bagaimana denganmu?” tanya Rian.
“Aku juga akan pulang. Aku bisa menyelesaikan laporan itu besok pagi.” Jawab Dina sambil meraih tasnya.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu.” Ucap Rian.
Dina mengangguk setuju.
“Sampaikan salamku untuk Julia.” Ujar Dina ketika mereka sudah sampai di depan apartemennya.
Rian mengangguk. Dina mencium pipi Rian sebelum ia turun dan memasuki gedung apartemennya.

“Kau bilang mau menginap di resort?” tanya Julia saat sarapan keesokan paginya.
“Aku merindukanmu.” Jawab Rian sambil mencium istrinya.
“Jangan bercanda. Pasti Dina yang memintamu pulang.” Tukas Julia.
Ia menuangkan secangkir kopi untuk Rian. Rian hanya tersenyum mendengar perkataan Julia.
“Kau mengenalnya dengan baik rupanya.” Gumam Rian.
“Hm, dia wanita yang sangat baik. Wanita lain tentu tidak akan bisa menjalani hal gila seperti ini. Kau tidak seharusnya melakukan hal ini.” ucap Julia.
“Ssshhhh. Apa yang kau bicarakan? Tolong jangan berkata seperti itu lagi. Aku mencintainya, tapi yang terpenting bagiku saat ini hanyalah kau. Aku akan selalu disisimu untuk menjagamu.” Tukas Rian sambil menghapus air mata di wajah Julia.
“Kenapa? Apa karena sebentar lagi aku akan mati, jadi kau mengasihaniku dan menikahiku untuk memberiku kebahagiaan terakhir sebelum aku pergi?” tanya Julia.
Ia bangkit dan berjalan menuju kamar. Rian mengikutinya dan memeluk Julia dengan erat.
“Kenapa kau berkata seperti ini? Apa kau marah padaku karena aku masih berhubungan dengan Dina? Maafkan aku. Kalau kau ingin aku menjauhi Dina, aku akan melakukannya. Tapi mohon jangan berkata seperti itu.” ujar Rian.
Julia menggeleng dan melepaskan pelukan Rian.
“Bukan begitu. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Aku hanya merasa semakin lelah dengan semua hal. Aku hanya ingin beristirahat dengan damai,” gumam Julia. “Jangan menyakiti Dina hanya karena aku.” Lanjutnya.
Tiba-tiba Julia merasakan pandangannya menjadi kabur dan tubuhnya lemas. Rian yang sudah menyadari bahwa istrinya akan pingsan, dengan cepat menangkap tubuh Julia.
“Apa aku berada di rumah sakit?” gumam Julia begitu ia sadar.
“Benar. Kenapa tidak meminum obatmu semalam?” tanya Rian.
Julia menatap raut kesal di wajah sahabat sekaligus suaminya itu. ia tersenyum.
“Aku lupa pergi ke apotik untuk mengambil obatku.” Jawab Julia.
“Kenapa kau ceroboh sekali? Kenapa bisa lupa dengan hal yang penting?” seru Rian jengkel.
“Maafkan aku. Itu karena aku sangat sibuk akhir-akhir ini.” kata Julia.
“Kalau kau sibuk, kau bisa memintaku untuk mengambilnya.” Tukas Rian.
“Apakah kau akan terus memarahiku seperti ini?” rayu Julia.
Rian menghela nafas panjang.
“Rian, aku ingin bertanya suatu hal padamu.” Kata Julia.
“Katakan saja?” gumam Rian. Ia memijat-mijat lengan Julia.
“Kenapa kau begitu menyayangiku?”ujar Julia setengah berbisik.
Rian mendongak, menatap wajah istrinya yang terlihat pucat.
“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa salah jika seorang suami menyayangi istrinya?” tanya Rian lembut.
Julia tersenyum getir.
“Sudahlah, Rian. Kita berdua sudah sama-sama tahu jika pernikahan kita ini hanya status belaka. Bukankah di hatimu hanya ada Dina seorang, begitu pula dengan hatiku yang sampai kapanpun akan tetap menjadi milik Riko,” tukas Julia. “Tolong katakan apa alasannya? Kenapa begitu menyayangiku? Kau pasti terluka karena menikahi gadis yang tidak kau cintai. Lalu kenapa melakukan semua ini?”
Rian menatap Julia nanar.
“Karena kau adalah orang yang terpenting bagiku. Apakah kau ingat? Saat masih TK, teman-teman kita sering menggangguku karena aku hanya seorang anak pungut. Kau satu-satunya yang membelaku dan melindungi aku waktu itu. Lalu saat di sekolah dasar, tengah malam kau berjalan sejauh tiga kilometer dari rumahmu ke rumahku demi menemaniku yang tidak berani berada sendirian dirumah. Begitu juga saat SMA, kau melindungiku saat akan dipukul oleh ayahku karena ketahuan mengikuti balapan. Hasilnya bibirmu sobek dan kau demam selama berhari-hari. Kemudian...”
“Sudah cukup. Jangan teruskan. Kalau kau menceritakan semua jasaku padamu di masa lalu, mungkin akan selesai lusa. Aku bahkan tidak yakin kalau aku akan bertahan selama itu.” potong Julia.
“Julia!” bentak Rian yang tidak suka mendengar ucapan Julia yang terakhir.
“Oleh sebab itu jangan diteruskan.” Pinta Julia.
Rian tersenyum lemah.
“Dulu aku pernah berjanji padamu untuk membalas semua kebaikanmu juga untuk selalu ada disampingmu. Kini saatnya aku membayar janji yang telah kuikrarkan.” Katanya pelan.
Julia sudah tak bisa membendung air mata yang menggenang di kelopak matanya. Rasa haru yan teramat sangat menghancurkan benteng pertahanannya. Benteng pertahanan yang selama ini menjadi tameng untuk melindungi pergolakan jiwanya yang terkadang susah dikendalikan. Julia merasakan seolah tertimpa beban yang sangat berat di kepalanya. Ia kembali tak sadarkan diri.
Rian bangkit dan berlari keluar dari kamar rawat Julia.
“Dokter. Julia.... Julia...” Kata Rian terbata-bata ketika bertemu dengan dokter Erika.
Tanpa bertanya apa-apa dokter Erika segera bergegas menuju kamar rawat Julia. Sebagai seorang dokter yang sudah cukup berpengalaman, Erika tentu memiliki feeling yang cukup kuat. Tanpa mendengar penuturan dari Rian pun, ia sudah tahu kalau sesuatu yang buruk terjadi pada pasiennya.
Ia menatap monitor pengukur detak jantung yang berada di samping tempat tidur Julia. Sangat lemah.
“Maaf. Silahkan tunggu di luar.” Pintanya pada Rian yang masih berdiri di sampingnya.
Rian menurut dan melangkah keluar kembali. Waktu 15 menit menunggu bagaikan 15 jam bagi Rian. Ia mondar-mandir di depan kamar rawat istrinya. Orang tuanya serta orang tua Julia sudah datang dan ikut menunggu dengan cemas di luar kamar rawat Julia.
“Dokter?”
Rian segera menghampiri dokter Erika begitu beliau keluar dari ruangan Julia.
“Keadaannya sangat kritis. Saat ini pasien tengah koma. Kita hanya bisa menunggu mukjizat dari Tuhan untuk Julia.” Jawab dokter Erika.
“Apakah putri kami akan sadar?” tanya Ibu Julia.
Dokter Erika menunduk lesu. Sebagai seorang dokter tentunya ia sudah terbiasa untuk menyampaikan kabar yang terkadang terdengar buruk di telinga pasien atau keluarga pasien, namun meski telah melakukan hal itu beberapa kali mengucapkannya tetap saja merasa tak nyaman.
“Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Para tim medis telah melakukan hal yang terbaik untuk membantu pasien. Tapi sekali lagi saya sampaikan bahwa manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Pada akhirnya, Tuhan-lah yang akan menentukan hasilnya.”
Dokter Erika berlalu setelah mengucapkan hal tersebut. Ibu Julia jatuh terduduk di lantai. Rian dan ayahnya membantu beliau berdiri.
“Julia...” Ibu Julia meracau memanggil-manggil nama putri semata wayangnya.
Satu minggu telah berlalu, namun Julia masih belum sadar dari komanya. Kondisinya tak kunjung membaik. Harapan keluarganya untuk kesembuhannya semakin hari semakin terkikis menghadapi kenyataan bahwa Julia masih dan tetap terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya.
“Aku mohon bertahanlah, Julia. Aku berjanji akan mengabulkan apapun yang kau minta asal kau mau membuka matamu kembali.” Bisik Rian di telinga istrinya.
Ia mencium tangan Julia lembut. Air matanya mengalir deras. Hatinya merasa sakit karena ia tak bisa melakukan apapun untuk Julia. Tiba-tiba ia merasa tangan istrinya bergetar di genggamannya. Ia mendongak dan melihat Julia yang akhirnya berhasil sadar dari komanya. Rian bangkit dan bersiap keluar untuk memanggil dokter agar memeriksa kondisi Julia, namun tangan Julia menahannya.
“Rian,” panggil Julia. “Benarkah akan menuruti permintaanku?” tanya Julia. Rian mengangguk.
Julia bangkit dari posisi berbaringnya dengan bantuan Rian. Ia mengangkat alas kepalanya dan mengambil sebuah amplop berwarna salem yang berada di bawahnya. Ia menyerahkan surat itu pada suaminya.
“Baca ini.” kata Julia. Rian tertawa pelan. Tawa pertamanya setelah berhari-hari tidak bisa tersenyum karena mencemaskan kondisi Julia.
“Apa kau yakin hanya minta itu? Kau benar-benar membuang kesempatan berhargamu dengan meminta hal sepele seperti ini. Kenapa tidak minta hal yang lebih bagus? Misalnya saja liburan ke Paris selama satu bulan penuh?” canda Rian.
Julia tersenyum.
“Apa gunanya minta semua hal indah yang tak mungkin bisa dinikmati? Justru permintaan semacam itulah yang sepele. Isi surat itu lebih penting. Aku ingin kau membacanya saat aku tidak lagi ada dunia yang sama denganmu...”
“Julia.” Potong Rian, jengah mendengar kata-kata istrinya yang seolah-olah tengah memberinya pesan terakhir. Ia sudah cukup lelah dengan semua keputus asaan yang selama ini menderanya, tanpa harus ditambah oleh ucapan Julia itu.
“Kau bilang mau mengabulkan permintaanku. Kumohon dengarkan aku. Biarkan aku menyelesaikannya dulu.” Pinta Julia.
Rian memalingkan wajahnya. Julia meremas lengan Rian lembut. Rian menatapnya enggan, berusaha mendengarkan ucapan istrinya.
“Setelah membacanya. Aku minta jangan marah padaku.” Kata Julia.
Rian mengernyit heran.
“Kenapa harus marah padamu? Memangnya apa yang kau tulis disini?” tanya Rian penasaran sembari akan membuka amplop yang berada di tangannya.
Julia menahan gerakan tangannya.
“Jangan buka sekarang. Kau boleh membukanya jika waktunya telah tiba. Kumohon. Tidakkah kau mau menjadikan permintaan terakhirku ini sebagai sebuah kenangan yang indah bagiku sebelum aku pergi?” kata Julia.
Rian memeluk Julia dengan erat sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Ia tidak rela jika harus melepas kepergian Julia, orang yang paling berarti baginya. Jemari lentik Julia yang semula meremas pundak Rian dengan kuat semakin lama semakin mengendur. Tubuh Julia terkulai lemas di pelukan Rian.
Rian melepaskan tubuh istrinya perlahan-lahan dan menatap layar monitor di sebelahnya yang mengeluarkan bunyi ‘tut’ dengan nyaring. Ia menekan tombol darurat di samping tubuh Julia. Beberapa menit kemudian dokter Erika dan beberapa orang perawat masuk ke ruangan tersebut. Tanpa diminta dua kali, Rian berjalan keluar ruangan dan menanti tim medis keluar dari sana.
Ia menatap amplop kecil yang telah kusut di genggamannya. Ia penasaran ingin tahu apa yang tertulis dalam surat itu, namun ia tidak akan pernah mau membacanya. Karena surat itu hanya bisa dibaca jika Julia pergi dan ia tidak mau melihat Julia pergi.
Tak lama kemudian, dokter Erika keluar dari kamar rawat Julia bersama dengan rombongan tim medis lainnya. Rian, Dina, dan seluruh anggota keluarga Julia buru-buru menghampiri dokter Erika dan menunggu apa yang akan dikatakan olehnya. Namun beliau hanya menggeleng dan meminta maaf.
Rian menerobos masuk ke kamar Julia dan menggoncang-goncangkan tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu. Dina memegangi lengan Rian untuk menghentikannya, namun Rian memberontak. Ia tetap mengguncang-guncangkan tubuh Julia, mencoba untuk membuatnya bangun kembali. Dina menampar pipi Rian dengan keras.
“Kubilang hentikan. Kalau kau begini terus, kau hanya akan menyakitinya. Sadarlah. Relakan ia pergi. Aku yakin ia akan beristirahat dengan tenang dan damai kalau kau melepasnya dengan senyuman.”teriak Dina sambil masih menggenggam lengan kekasihnya itu.
Rian menatap Dina dengan pandangan yang penuh luka. Ia menepiskan tangan Dina dari lengannya dan berlari meninggalkan ruangan itu. Rian terus berlari. Tidak berhenti meski berulang kali menabrak perawat atau pasien yang berada di dekatnya. Akhirnya ia berhenti di depan ruangan yang nampaknya adalah sebuah gudang. Bukan karena kelelahan, melainkan karena sudah tidak ada tempat lagi untuk lari. Di depannya adalah jalan buntu. Ia bersandar di pintu gudang dan menatap amplop pemberian Julia yang berada di genggamannya. Rian membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan sebuah kertas yang berada di dalamnya. Ia menatap tulisan tangan Julia. Ia mulai membaca kata-kata yang berjajar rapi di atas kertas itu. Sambil membaca, tak henti-hentinya air mata mengalir deras mengaburkan pandangannya.
Dear Rian,
Tulis Julia.
Aku bertaruh saat kau membaca surat ini, pasti kau tengah menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang telah kehilangan mainannya. Hanya saja bedanya kau kehilangan aku, manusia bukan benda. Benarkan? Tapi tahukah kau? Aku dan mainan yang kubicarakan tadi, sesungguhnya memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda. Kami ada untuk membuat pemiliknya bahagia. Anak-anak yang diberi mainan pasti akan merasa gembira, lalu bagaimana denganmu? Apa kau gembira dengan memiliki seorang istri sepertiku? Aku harap jawabannya ‘ya’. Setidaknya selama ini aku selalu mencoba menyenangkan hatimu.
OK. Jangan hiraukan yang di atas. Itu semua hanya prakata dariku. Yah, meski terlalu panjang. Tulisan di bawahlah yang sebenarnya merupakan hal penting yang sangat ingin kusampaikan padamu selama ini. Baca dengan sungguh-sungguh!
Rian, aku MENCINTAIMU. Mungkin kau sudah sering dengar aku mengatakan hal ini. Dan mungkin juga selama ini kau hanya menganggap bahwa ‘cinta’ yang kuucapkan itu hanya sebatas kasih sayang seorang sahabat. Well, dulu aku memang berharap kau menanggapinya seperti itu saja. Namun kali ini aku harus memintamu berpikir bahwa ucapanku itu adalah perasaan yang ditujukan seorang wanita kepada lelaki yang dicintainya.
Kau pasti bertanya-tanya kenapa selama ini tidak berterus terang kepadamu. Kupikir alasanku seharusnya sudah jelas. Kau selama ini merasa berhutang budi padaku. Kalau aku berkata bahwa aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat, meski kau tidak menyukaiku sekalipun, kau tetap akan setuju untuk menjadi kekasihku. Aku tidak mau kau mengorbankan perasaanmu hanya demi membayar janji yang dulu kau ucapkan ‘membalas semua kebaikanku dan selalu menjagaku’. Semua itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan aku tidak ingin hal itu terjadi.
Rian membalik kertas itu dan membaca kalimat selanjutnya.
Aku mencintaimu dan mengharapkan kebahagiaan untukmu. Namun jika kau harus terpaksa mencintaiku, aku yakin kau tidak akan merasakan kebahagiaan itu. Oleh sebab itu, aku simpan perasaan ini sebagai rahasia saja. Aku mencoba mencintai orang lain dan pilihanku jatuh pada Riko yang kukira baik. Ternyata aku salah besar, lelaki itu bahkan tidak lebih bagus dari sampah.
Aku terluka, tapi bukan karena dihianati oleh Riko. Aku merasa sakit karena tidak bisa menemukan orang yang lebih baik daripada kau. Penderitaanku belum berhenti sampai disitu. Berikutnya aku mendengar berita yang lebih membuatku terpuruk. Hasil pemeriksaan kesehatanku menunjukkan adanya sel kanker yang menyerang kepalaku, otakku tepatnya. Stadium akhir. Lengkap sudah semuanya.
Saat itu aku berpikir untuk mati saja, namun kau datang menyelamatkanku dari keputusasaan. Yah, harus kubilang kau memang harapan terbesarku untuk bertahan hidup. Kau, ayah, dan ibu adalah alasanku untuk tetap berjuang melewati hari-hariku yang tak mudah. Waktu kau memintaku untuk menjadi istrimu, aku merasa... merasa... lebih dari sekedar sangat bahagia. Entahlah, rasanya seperti tidak ada kata di dunia ini yang tepat untuk menggambarkan itu. Mungkin semacam surga dunia bagiku.
Aku tahu cintamu bukan untukku. Di hatimu sudah ada wanita lain yang menempati, Dina. Dia yang kau cintai. Aku tahu. Tapi saat itu yang ada di pikiranku hanyalah kau. Aku berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk merasakan kebahagiaan sebagai pendamping hidupmu, karena mungkin ini yang terakhir. Aku egois, bukan? Memang. Aku wanita yang egois dan kejam. Aku merebutmu dari Dina.
Namun kalau aku boleh jujur, aku merasa menyesal segera setelah memutuskan menerima lamaranmu. Aku merasa bersalah. Hari-hari setelah pernikahan, kupikir adalah awal yang bahagia karena kau adalah milikku. Namun aku salah. Lagi. Pada akhirnya aku sadar, ragamu memang milikku namun tidak dengan hatimu. Aku makin merasa sedih, dosa yang telah kuperbuat ternyata tidak ada gunanya. Hanya semakin membuat batinku perih dan tersiksa. Mungkin itu hukuman dari Tuhan untukku, karena telah merampasmu dari Dina. Aku rasa itu pantas. Setimpal dengan kesalahanku. Aku hanya berharap kau dan Dina bisa memaafkanku yang naif ini.
Well, mungkin hanya ini yang bisa kusampaikan padamu. Jika mau menunjukkan surat ini pada Dina, silahkan saja. Aku pikir ia juga harus tahu bahwa aku adalah iblis betina yang telah menyelip di antara kalian berdua dan mengacaukan segalanya. =)
Sekali lagi mohon maafkan aku. Selamat tinggal.
                                                                                     
                                                                             With love,

                                                                             Julia

N. B. : Segeralah menikah dengannya. Mungkin itu akan sedikit mengurangi penyesalanku.
Kertas itu terlepas dari genggaman Rian dan jatuh ke lantai. Dina yang sedari tadi memandangnya dari kejauhan, berjalan menghampirinya dan meraih kertas itu. Ia membaca semua kata yang tertulis di sana tanpa satupun terlewatkan. Reaksinya setelah membaca surat itu tidak jauh berbeda dari Rian. Ia menangis sesenggukan.
Dina sama sekali tidak merasa marah ataupun dihianati. Ia malah merasa kasihan pada Julia yang harus menyimpan perasaan cintanya pada Rian sampai akhir hidupnya hanya karena tidak mau ‘menyalahgunakan’ sebuah janji. Rian membelai lembut rambut kekasihnya itu. Dina masih menangis tersedu-sedu.
“Aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Dan selamanya akan tetap begitu.” Gumam Rian.
“Benar. Kau harus terus menyayanginya. Jangan pernah melupakannya.” Bisik Dina.
Rian menatap Dina dengan salah tingkah. Ia menyangka kekasihnya itu kesal karena ucapannya, namun sebaliknya Dina terlihat tulus saat mengatakan semua itu.
“Aku tidak akan marah. Aku tahu, aku dan Julia punya tempat sendiri-sendiri di hatimu.” Kata Dina sambil tersenyum manis.
Dina benar. Ia dan Julia punya tempat spesial di hati Rian. Dina yang tercinta dan Julia yang tersayang.

the end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar