Salam kenal ya..! ^-^
Hari ini aku mau nunjukin karyaku ke para pengunjung blog aku ini...
Karya ini berupa cerpen yang coba aku buat...
Karena ini kali pertama aku nulis, aku harap para pengunjung sekalian yang sudah membaca tulisanku sudi untuk meninggalkan jejak berupa kritik dan saran yang mungkin bisa aku aplikasikan dalam cerpen aku berikutnya.
Well! Check This Out!
Promise
Julia membuka pintu
menuju teras belakang. Lampu taman masih belum dinyalakan. Pasti hari ini Rian
pulang telat lagi, begitu pikirnya dalam hati. Julia dan Rian adalah sepasang
pengantin baru. Namun belum lewat satu bulan menjalani kehidupan sebagai suami
istri, mereka sudah kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan masing-masing.
Bahkan bulan madu pun terpaksa harus berkali-kali dibatalkan.
Alasannya?
Tentu saja karena Julia dan Rian sama-sama lebih mengutamakan pekerjaan.
Mungkin beberapa orang akan berpikir bahwa keduanya sangat cocok karena
memiliki prinsip yang sama yaitu tiada hari tanpa bekerja. Tapi sebenarnya apa
yang terlihat benar belum tentu sungguh-sungguh baik-baik saja.
Bayangkan saja.
Dalam kurun waktu satu bulan pernikahan, Julia dan Rian hanya menghabiskan
waktu bersama kurang dari seperempatnya. Benar, kurang dari satu minggu. Di
minggu kedua saja, keduanya pulang larut malam secara bergantian. Kedua orang
tua pengantin bukan tidak mengingatkan, bahkan mereka membelikan tiket pesawat
ke luar negeri agar keduanya bisa berlibur bersama. Tapi pada akhirnya, tiket
dan pasport yang telah susah payah diperjuangkan malah berakhir di laci meja
kerja Julia dan Rian.
Entah apa yang
mereka pikirkan. Apakah mungkin mereka sudah merencanakan hal semacam kerja
lembur setiap hari sebelum mereka memutuskan untuk menikah ataukah mungkin
kegilaan kerja itu sudah menjadi sindrom bagi mereka. Entahlah, tidak ada
seorangpun yang benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati ataupun pikiran
orang lain. Begitupun teman-teman mereka yang hanya bisa bertanya-tanya dan
menggeleng-gelengkan kepala melihat kehidupan Julia dan Rian yang masih
baik-baik saja meski keduanya hanya bisa bertemu waktu tidur.
Telepon di ruang
tamu berdering. Mbok Inah buru-buru keluar dari kamarnya dan mengangkat
telepon.
“Mbak Lia, ada
telepon dari Mas Rian.” Julia meraih telepon di tangan Mbok Inah.
“Ya?” gumam Julia
sambil melepaskan syal yang terasa membelit lehernya sejak tadi pagi.
“Sepertinya hari ini
aku tidak pulang ke rumah. Aku tidak bisa meninggalkan Dina bekerja sendirian
di kantor.” Ujar Rian.
“Baiklah. Terserah
kau saja. Tapi ngomong-ngomong apa yang kalian kerjakan di kantor sampai tidak
bisa pulang ke rumah?” tanya Julia ingin tahu.
“Membuat laporan dan
proposal proyek untuk minggu depan. Lalu pergi ke resort untuk memeriksa ruang
yang akan digunakan untuk konferensi besok. Kami berencana untuk menginap di
sana malam ini.” jelas Rian.
“Baiklah. Baiklah.
Tidak usah dijelaskan secara mendetail seperti itu. Lakukan apapun yang ingin
kau lakukan. Bersenang-senanglah.” Goda Julia.
“Apa maksudmu
bersenang-senang? Memikirkannya pun tidak sempat.” Balas Rian.
Keduanya tertawa di
telepon. Tiba-tiba Julia merasakan sebuah cairan hangat keluar dari hidungnya.
Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan. Darah. Julia menatap tangannya
dengan gugup. Ia buru-buru meraih sekotak tisu di meja ruang tamu. Tanpa
sengaja tangannya menyenggol vas hingga jatuh ke lantai.
“Julia. Apa yang
terjadi? Apa kau baik-baik saja?” tanya Rian cemas.
“Aku baik-baik saja.
Jangan mengkawatirkanku. Kau pergi saja dengan Dina. Kalian berdua
berhati-hatilah. Hubungi aku kembali jika kau sudah tidak sibuk. Selamat
malam.”
Julia berlari ke
kamar mandi dan membasuh mukanya dengan air. Darah sudah berhenti mengalir dari
hidungnya, namun kepalanya masih berdenyut-denyut. Ia memandang bayangan
wajahnya di cermin. Ia menghela nafas. Begitu make-up-nya dihilangkan, wajahnya
kembali terlihat tirus.
“Mungkin besok aku harus
menemui dokter Erika.” Gumam Julia sambil berbaring di tempat tidur.
Beberapa menit
kemudian, ia sudah tertidur dengan pulas. Sementara itu, Rian yang saat ini
masih berada di kantor sedang memandangi ponselnya sambil melamun. Dina,
sekretaris sekaligus wanita yang sudah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun yang
lalu, menghampirinya dan memegangi tangannya.
“Apa kau sedang
memikirkan Julia?” tanya Dina.
Rian mengangguk
mengiyakan.
“Aku benar-benar
merasa melakukan hal yang buruk. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu
ketika kau memintanya menikah denganmu, juga saat Julia menerima lamaranmu.
Saat itu aku berpikir bahwa kalian berdua sudah kehilangan akal. Aku
bertanya-tanya bagaimana mungkin Julia setuju menikah denganmu padahal ia tahu
bahwa aku dan kau pacaran.”
“Lalu kau
menjelaskan semuanya padaku. Tentang Riko, tunangan Julia yang berselingkuh,
lalu penyakit Julia. Kau bilang alasan kau menikahinya adalah karena kau ingin
melindunginya bukan? Kau tidak ingin melihatnya menanggung semua beban itu
sendiri, jadi kau putuskan untuk berada di sisinya sebagai suaminya. Kenyataan
bahwa kau menyayangi wanita selain aku, tentu saja sedikit menggangguku. Namun
aku tahu kasih sayang yang kau berikan padanya tidak kau maksudkan sebagai
cinta. Aku tahu orang yang kau cintai adalah aku, tapi yang menjadi istrimu
saat ini adalah Julia. Jadi kalau kau harus meninggalkannya berada di rumah
sendirian hanya karena aku, aku jadi merasa bahwa aku adalah seorang wanita
jalang yang merusak rumah tangga kalian.” Kata Dina.
Rian memandang wajah
kekasihnya itu dengan sedih. Ia merasa bersalah pada Dina atas semua hal yang
ia lakukan. Sebenarnya hingga detik ini ia tidak tahu apakah ia melakukan hal
yang benar dengan menikahi Julia dengan alasan untuk menjaganya, bukan karena
cinta.
“Pulanglah. Kau
harus berada di sisi Julia. Bukankah kau bilang kau perlu menjaganya? Kau
bilang waktunya tak lama?” ujar Dina lagi.
Kali ini suaranya
bergetar menahan tangis. Hatinya merasa sakit yang teramat sangat melihat orang
yang dikasihinya merasa bimbang untuk memilih antara dirinya dan sahabatnya. Ia
tahu bahwa Rian sangat menyayangi Julia sebagaimana seorang kakak pada adiknya,
namun tetap saja ia tidak bisa menepis perasaan iri dan terluka di batinnya
karena hal itu. Semua wanita tentu tidak mau jika harus menjadi yang kedua,
begitu pula dengannya. Meski itu hanya dibandingkan dengan sahabatnya. Namun
kali ini ia harus mengalah demi kebahagiaan orang yang paling disayangi oleh
kekasihnya.
“Bagaimana
denganmu?” tanya Rian.
“Aku juga akan
pulang. Aku bisa menyelesaikan laporan itu besok pagi.” Jawab Dina sambil
meraih tasnya.
“Kalau begitu aku
akan mengantarmu.” Ucap Rian.
Dina mengangguk
setuju.
“Sampaikan salamku
untuk Julia.” Ujar Dina ketika mereka sudah sampai di depan apartemennya.
“Kau bilang mau
menginap di resort?” tanya Julia saat sarapan keesokan paginya.
“Aku merindukanmu.”
Jawab Rian sambil mencium istrinya.
“Jangan bercanda.
Pasti Dina yang memintamu pulang.” Tukas Julia.
Ia menuangkan secangkir
kopi untuk Rian. Rian hanya tersenyum mendengar perkataan Julia.
“Kau mengenalnya
dengan baik rupanya.” Gumam Rian.
“Hm, dia wanita yang
sangat baik. Wanita lain tentu tidak akan bisa menjalani hal gila seperti ini.
Kau tidak seharusnya melakukan hal ini.” ucap Julia.
“Ssshhhh. Apa yang
kau bicarakan? Tolong jangan berkata seperti itu lagi. Aku mencintainya, tapi
yang terpenting bagiku saat ini hanyalah kau. Aku akan selalu disisimu untuk
menjagamu.” Tukas Rian sambil menghapus air mata di wajah Julia.
“Kenapa? Apa karena
sebentar lagi aku akan mati, jadi kau mengasihaniku dan menikahiku untuk
memberiku kebahagiaan terakhir sebelum aku pergi?” tanya Julia.
Ia bangkit dan
berjalan menuju kamar. Rian mengikutinya dan memeluk Julia dengan erat.
“Kenapa kau berkata
seperti ini? Apa kau marah padaku karena aku masih berhubungan dengan Dina?
Maafkan aku. Kalau kau ingin aku menjauhi Dina, aku akan melakukannya. Tapi
mohon jangan berkata seperti itu.” ujar Rian.
Julia menggeleng dan
melepaskan pelukan Rian.
“Bukan begitu. Aku
minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Aku hanya merasa semakin
lelah dengan semua hal. Aku hanya ingin beristirahat dengan damai,” gumam
Julia. “Jangan menyakiti Dina hanya karena aku.” Lanjutnya.
Tiba-tiba Julia
merasakan pandangannya menjadi kabur dan tubuhnya lemas. Rian yang sudah
menyadari bahwa istrinya akan pingsan, dengan cepat menangkap tubuh Julia.
“Apa aku berada di
rumah sakit?” gumam Julia begitu ia sadar.
“Benar. Kenapa tidak
meminum obatmu semalam?” tanya Rian.
Julia menatap raut
kesal di wajah sahabat sekaligus suaminya itu. ia tersenyum.
“Aku lupa pergi ke
apotik untuk mengambil obatku.” Jawab Julia.
“Kenapa kau ceroboh
sekali? Kenapa bisa lupa dengan hal yang penting?” seru Rian jengkel.
“Maafkan aku. Itu
karena aku sangat sibuk akhir-akhir ini.” kata Julia.
“Kalau kau sibuk,
kau bisa memintaku untuk mengambilnya.” Tukas Rian.
“Apakah kau akan
terus memarahiku seperti ini?” rayu Julia.
Rian menghela nafas
panjang.
“Rian, aku ingin
bertanya suatu hal padamu.” Kata Julia.
“Katakan saja?”
gumam Rian. Ia memijat-mijat lengan Julia.
“Kenapa kau begitu
menyayangiku?”ujar Julia setengah berbisik.
Rian mendongak,
menatap wajah istrinya yang terlihat pucat.
“Kenapa tiba-tiba
bertanya seperti itu? Apa salah jika seorang suami menyayangi istrinya?” tanya
Rian lembut.
Julia tersenyum
getir.
“Sudahlah, Rian.
Kita berdua sudah sama-sama tahu jika pernikahan kita ini hanya status belaka.
Bukankah di hatimu hanya ada Dina seorang, begitu pula dengan hatiku yang
sampai kapanpun akan tetap menjadi milik Riko,” tukas Julia. “Tolong katakan
apa alasannya? Kenapa begitu menyayangiku? Kau pasti terluka karena menikahi
gadis yang tidak kau cintai. Lalu kenapa melakukan semua ini?”
Rian menatap Julia
nanar.
“Karena kau adalah
orang yang terpenting bagiku. Apakah kau ingat? Saat masih TK, teman-teman kita
sering menggangguku karena aku hanya seorang anak pungut. Kau satu-satunya yang
membelaku dan melindungi aku waktu itu. Lalu saat di sekolah dasar, tengah
malam kau berjalan sejauh tiga kilometer dari rumahmu ke rumahku demi
menemaniku yang tidak berani berada sendirian dirumah. Begitu juga saat SMA,
kau melindungiku saat akan dipukul oleh ayahku karena ketahuan mengikuti balapan.
Hasilnya bibirmu sobek dan kau demam selama berhari-hari. Kemudian...”
“Sudah cukup. Jangan
teruskan. Kalau kau menceritakan semua jasaku padamu di masa lalu, mungkin akan
selesai lusa. Aku bahkan tidak yakin kalau aku akan bertahan selama itu.”
potong Julia.
“Julia!” bentak Rian
yang tidak suka mendengar ucapan Julia yang terakhir.
“Oleh sebab itu
jangan diteruskan.” Pinta Julia.
Rian tersenyum
lemah.
“Dulu aku pernah
berjanji padamu untuk membalas semua kebaikanmu juga untuk selalu ada
disampingmu. Kini saatnya aku membayar janji yang telah kuikrarkan.” Katanya
pelan.
Julia sudah tak bisa
membendung air mata yang menggenang di kelopak matanya. Rasa haru yan teramat
sangat menghancurkan benteng pertahanannya. Benteng pertahanan yang selama ini
menjadi tameng untuk melindungi pergolakan jiwanya yang terkadang susah
dikendalikan. Julia merasakan seolah tertimpa beban yang sangat berat di
kepalanya. Ia kembali tak sadarkan diri.
Rian bangkit dan
berlari keluar dari kamar rawat Julia.
“Dokter. Julia....
Julia...” Kata Rian terbata-bata ketika bertemu dengan dokter Erika.
Tanpa bertanya
apa-apa dokter Erika segera bergegas menuju kamar rawat Julia. Sebagai seorang
dokter yang sudah cukup berpengalaman, Erika tentu memiliki feeling yang cukup
kuat. Tanpa mendengar penuturan dari Rian pun, ia sudah tahu kalau sesuatu yang
buruk terjadi pada pasiennya.
Ia menatap monitor
pengukur detak jantung yang berada di samping tempat tidur Julia. Sangat lemah.
“Maaf. Silahkan
tunggu di luar.” Pintanya pada Rian yang masih berdiri di sampingnya.
Rian menurut dan
melangkah keluar kembali. Waktu 15 menit menunggu bagaikan 15 jam bagi Rian. Ia
mondar-mandir di depan kamar rawat istrinya. Orang tuanya serta orang tua Julia
sudah datang dan ikut menunggu dengan cemas di luar kamar rawat Julia.
“Dokter?”
Rian segera
menghampiri dokter Erika begitu beliau keluar dari ruangan Julia.
“Keadaannya sangat
kritis. Saat ini pasien tengah koma. Kita hanya bisa menunggu mukjizat dari
Tuhan untuk Julia.” Jawab dokter Erika.
“Apakah putri kami
akan sadar?” tanya Ibu Julia.
Dokter Erika
menunduk lesu. Sebagai seorang dokter tentunya ia sudah terbiasa untuk
menyampaikan kabar yang terkadang terdengar buruk di telinga pasien atau
keluarga pasien, namun meski telah melakukan hal itu beberapa kali
mengucapkannya tetap saja merasa tak nyaman.
“Saya tidak bisa
menjanjikan apapun. Para tim medis telah melakukan hal yang terbaik untuk
membantu pasien. Tapi sekali lagi saya sampaikan bahwa manusia hanya bisa
berencana, berusaha, dan berdoa. Pada akhirnya, Tuhan-lah yang akan menentukan
hasilnya.”
Dokter Erika berlalu
setelah mengucapkan hal tersebut. Ibu Julia jatuh terduduk di lantai. Rian dan
ayahnya membantu beliau berdiri.
“Julia...” Ibu Julia
meracau memanggil-manggil nama putri semata wayangnya.
Satu minggu telah
berlalu, namun Julia masih belum sadar dari komanya. Kondisinya tak kunjung
membaik. Harapan keluarganya untuk kesembuhannya semakin hari semakin terkikis
menghadapi kenyataan bahwa Julia masih dan tetap terbaring tak sadarkan diri di
atas tempat tidurnya.
“Aku mohon
bertahanlah, Julia. Aku berjanji akan mengabulkan apapun yang kau minta asal
kau mau membuka matamu kembali.” Bisik Rian di telinga istrinya.
Ia mencium tangan
Julia lembut. Air matanya mengalir deras. Hatinya merasa sakit karena ia tak
bisa melakukan apapun untuk Julia. Tiba-tiba ia merasa tangan istrinya bergetar
di genggamannya. Ia mendongak dan melihat Julia yang akhirnya berhasil sadar
dari komanya. Rian bangkit dan bersiap keluar untuk memanggil dokter agar
memeriksa kondisi Julia, namun tangan Julia menahannya.
“Rian,” panggil Julia.
“Benarkah akan menuruti permintaanku?” tanya Julia. Rian mengangguk.
Julia bangkit dari
posisi berbaringnya dengan bantuan Rian. Ia mengangkat alas kepalanya dan
mengambil sebuah amplop berwarna salem yang berada di bawahnya. Ia menyerahkan
surat itu pada suaminya.
“Baca ini.” kata
Julia. Rian tertawa pelan. Tawa pertamanya setelah berhari-hari tidak bisa
tersenyum karena mencemaskan kondisi Julia.
“Apa kau yakin hanya
minta itu? Kau benar-benar membuang kesempatan berhargamu dengan meminta hal
sepele seperti ini. Kenapa tidak minta hal yang lebih bagus? Misalnya saja
liburan ke Paris selama satu bulan penuh?” canda Rian.
Julia tersenyum.
“Apa gunanya minta
semua hal indah yang tak mungkin bisa dinikmati? Justru permintaan semacam
itulah yang sepele. Isi surat itu lebih penting. Aku ingin kau membacanya saat
aku tidak lagi ada dunia yang sama denganmu...”
“Julia.” Potong
Rian, jengah mendengar kata-kata istrinya yang seolah-olah tengah memberinya
pesan terakhir. Ia sudah cukup lelah dengan semua keputus asaan yang selama ini
menderanya, tanpa harus ditambah oleh ucapan Julia itu.
“Kau bilang mau
mengabulkan permintaanku. Kumohon dengarkan aku. Biarkan aku menyelesaikannya
dulu.” Pinta Julia.
Rian memalingkan
wajahnya. Julia meremas lengan Rian lembut. Rian menatapnya enggan, berusaha
mendengarkan ucapan istrinya.
“Setelah membacanya.
Aku minta jangan marah padaku.” Kata Julia.
Rian mengernyit
heran.
“Kenapa harus marah
padamu? Memangnya apa yang kau tulis disini?” tanya Rian penasaran sembari akan
membuka amplop yang berada di tangannya.
Julia menahan
gerakan tangannya.
“Jangan buka
sekarang. Kau boleh membukanya jika waktunya telah tiba. Kumohon. Tidakkah kau
mau menjadikan permintaan terakhirku ini sebagai sebuah kenangan yang indah
bagiku sebelum aku pergi?” kata Julia.
Rian memeluk Julia
dengan erat sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Ia tidak rela jika
harus melepas kepergian Julia, orang yang paling berarti baginya. Jemari lentik
Julia yang semula meremas pundak Rian dengan kuat semakin lama semakin
mengendur. Tubuh Julia terkulai lemas di pelukan Rian.
Rian melepaskan
tubuh istrinya perlahan-lahan dan menatap layar monitor di sebelahnya yang
mengeluarkan bunyi ‘tut’ dengan nyaring. Ia menekan tombol darurat di samping
tubuh Julia. Beberapa menit kemudian dokter Erika dan beberapa orang perawat
masuk ke ruangan tersebut. Tanpa diminta dua kali, Rian berjalan keluar ruangan
dan menanti tim medis keluar dari sana.
Ia menatap amplop
kecil yang telah kusut di genggamannya. Ia penasaran ingin tahu apa yang
tertulis dalam surat itu, namun ia tidak akan pernah mau membacanya. Karena
surat itu hanya bisa dibaca jika Julia pergi dan ia tidak mau melihat Julia
pergi.
Tak lama kemudian,
dokter Erika keluar dari kamar rawat Julia bersama dengan rombongan tim medis
lainnya. Rian, Dina, dan seluruh anggota keluarga Julia buru-buru menghampiri
dokter Erika dan menunggu apa yang akan dikatakan olehnya. Namun beliau hanya
menggeleng dan meminta maaf.
Rian menerobos masuk
ke kamar Julia dan menggoncang-goncangkan tubuh istrinya yang sudah tak
bernyawa itu. Dina memegangi lengan Rian untuk menghentikannya, namun Rian
memberontak. Ia tetap mengguncang-guncangkan tubuh Julia, mencoba untuk
membuatnya bangun kembali. Dina menampar pipi Rian dengan keras.
“Kubilang hentikan.
Kalau kau begini terus, kau hanya akan menyakitinya. Sadarlah. Relakan ia
pergi. Aku yakin ia akan beristirahat dengan tenang dan damai kalau kau
melepasnya dengan senyuman.”teriak Dina sambil masih menggenggam lengan
kekasihnya itu.
Rian menatap Dina
dengan pandangan yang penuh luka. Ia menepiskan tangan Dina dari lengannya dan
berlari meninggalkan ruangan itu. Rian terus berlari. Tidak berhenti meski
berulang kali menabrak perawat atau pasien yang berada di dekatnya. Akhirnya ia
berhenti di depan ruangan yang nampaknya adalah sebuah gudang. Bukan karena
kelelahan, melainkan karena sudah tidak ada tempat lagi untuk lari. Di depannya
adalah jalan buntu. Ia bersandar di pintu gudang dan menatap amplop pemberian
Julia yang berada di genggamannya. Rian membuka amplop tersebut lalu
mengeluarkan sebuah kertas yang berada di dalamnya. Ia menatap tulisan tangan
Julia. Ia mulai membaca kata-kata yang berjajar rapi di atas kertas itu. Sambil
membaca, tak henti-hentinya air mata mengalir deras mengaburkan pandangannya.
Dear Rian,
Tulis Julia.
Aku bertaruh saat kau membaca surat ini,
pasti kau tengah menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang telah kehilangan
mainannya. Hanya saja bedanya kau kehilangan aku, manusia bukan benda.
Benarkan? Tapi tahukah kau? Aku dan mainan yang kubicarakan tadi, sesungguhnya
memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda. Kami ada untuk membuat pemiliknya
bahagia. Anak-anak yang diberi mainan pasti akan merasa gembira, lalu bagaimana
denganmu? Apa kau gembira dengan memiliki seorang istri sepertiku? Aku harap
jawabannya ‘ya’. Setidaknya selama ini aku selalu mencoba menyenangkan hatimu.
OK. Jangan hiraukan yang di atas. Itu semua
hanya prakata dariku. Yah, meski terlalu panjang. Tulisan di bawahlah yang
sebenarnya merupakan hal penting yang sangat ingin kusampaikan padamu selama
ini. Baca dengan sungguh-sungguh!
Rian, aku MENCINTAIMU. Mungkin kau sudah
sering dengar aku mengatakan hal ini. Dan mungkin juga selama ini kau hanya
menganggap bahwa ‘cinta’ yang kuucapkan itu hanya sebatas kasih sayang seorang
sahabat. Well, dulu aku memang berharap kau menanggapinya seperti itu saja.
Namun kali ini aku harus memintamu berpikir bahwa ucapanku itu adalah perasaan
yang ditujukan seorang wanita kepada lelaki yang dicintainya.
Kau pasti bertanya-tanya kenapa selama ini
tidak berterus terang kepadamu. Kupikir alasanku seharusnya sudah jelas. Kau
selama ini merasa berhutang budi padaku. Kalau aku berkata bahwa aku
mencintaimu lebih dari seorang sahabat, meski kau tidak menyukaiku sekalipun,
kau tetap akan setuju untuk menjadi kekasihku. Aku tidak mau kau mengorbankan
perasaanmu hanya demi membayar janji yang dulu kau ucapkan ‘membalas semua
kebaikanku dan selalu menjagaku’. Semua itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri
dan aku tidak ingin hal itu terjadi.
Rian membalik
kertas itu dan membaca kalimat selanjutnya.
Aku mencintaimu dan mengharapkan kebahagiaan
untukmu. Namun jika kau harus terpaksa mencintaiku, aku yakin kau tidak akan
merasakan kebahagiaan itu. Oleh sebab itu, aku simpan perasaan ini sebagai
rahasia saja. Aku mencoba mencintai orang lain dan pilihanku jatuh pada Riko
yang kukira baik. Ternyata aku salah besar, lelaki itu bahkan tidak lebih bagus
dari sampah.
Aku terluka, tapi bukan karena dihianati oleh
Riko. Aku merasa sakit karena tidak bisa menemukan orang yang lebih baik
daripada kau. Penderitaanku belum berhenti sampai disitu. Berikutnya aku
mendengar berita yang lebih membuatku terpuruk. Hasil pemeriksaan kesehatanku
menunjukkan adanya sel kanker yang menyerang kepalaku, otakku tepatnya. Stadium
akhir. Lengkap sudah semuanya.
Saat itu aku berpikir untuk mati saja, namun
kau datang menyelamatkanku dari keputusasaan. Yah, harus kubilang kau memang
harapan terbesarku untuk bertahan hidup. Kau, ayah, dan ibu adalah alasanku
untuk tetap berjuang melewati hari-hariku yang tak mudah. Waktu kau memintaku
untuk menjadi istrimu, aku merasa... merasa... lebih dari sekedar sangat
bahagia. Entahlah, rasanya seperti tidak ada kata di dunia ini yang tepat untuk
menggambarkan itu. Mungkin semacam surga dunia bagiku.
Aku tahu cintamu bukan untukku. Di hatimu
sudah ada wanita lain yang menempati, Dina. Dia yang kau cintai. Aku tahu. Tapi
saat itu yang ada di pikiranku hanyalah kau. Aku berpikir bahwa tidak ada
salahnya untuk merasakan kebahagiaan sebagai pendamping hidupmu, karena mungkin
ini yang terakhir. Aku egois, bukan? Memang. Aku wanita yang egois dan kejam.
Aku merebutmu dari Dina.
Namun kalau aku boleh jujur, aku merasa
menyesal segera setelah memutuskan menerima lamaranmu. Aku merasa bersalah. Hari-hari
setelah pernikahan, kupikir adalah awal yang bahagia karena kau adalah milikku.
Namun aku salah. Lagi. Pada akhirnya aku sadar, ragamu memang milikku namun
tidak dengan hatimu. Aku makin merasa sedih, dosa yang telah kuperbuat ternyata
tidak ada gunanya. Hanya semakin membuat batinku perih dan tersiksa. Mungkin
itu hukuman dari Tuhan untukku, karena telah merampasmu dari Dina. Aku rasa itu
pantas. Setimpal dengan kesalahanku. Aku hanya berharap kau dan Dina bisa
memaafkanku yang naif ini.
Well, mungkin hanya ini yang bisa kusampaikan
padamu. Jika mau menunjukkan surat ini pada Dina, silahkan saja. Aku pikir ia
juga harus tahu bahwa aku adalah iblis betina yang telah menyelip di antara
kalian berdua dan mengacaukan segalanya. =)
Sekali lagi mohon maafkan aku. Selamat
tinggal.
With
love,
Julia
N. B. : Segeralah menikah dengannya. Mungkin
itu akan sedikit mengurangi penyesalanku.
Kertas itu terlepas
dari genggaman Rian dan jatuh ke lantai. Dina yang sedari tadi memandangnya dari
kejauhan, berjalan menghampirinya dan meraih kertas itu. Ia membaca semua kata
yang tertulis di sana tanpa satupun terlewatkan. Reaksinya setelah membaca
surat itu tidak jauh berbeda dari Rian. Ia menangis sesenggukan.
Dina sama sekali
tidak merasa marah ataupun dihianati. Ia malah merasa kasihan pada Julia yang
harus menyimpan perasaan cintanya pada Rian sampai akhir hidupnya hanya karena
tidak mau ‘menyalahgunakan’ sebuah janji. Rian membelai lembut rambut
kekasihnya itu. Dina masih menangis tersedu-sedu.
“Aku menyayanginya.
Sangat menyayanginya. Dan selamanya akan tetap begitu.” Gumam Rian.
“Benar. Kau harus
terus menyayanginya. Jangan pernah melupakannya.” Bisik Dina.
Rian menatap Dina
dengan salah tingkah. Ia menyangka kekasihnya itu kesal karena ucapannya, namun
sebaliknya Dina terlihat tulus saat mengatakan semua itu.
“Aku tidak akan
marah. Aku tahu, aku dan Julia punya tempat sendiri-sendiri di hatimu.” Kata
Dina sambil tersenyum manis.
Dina benar. Ia dan
Julia punya tempat spesial di hati Rian. Dina yang tercinta dan Julia yang
tersayang.
the end
